Blog ini memuat berbagai karya tulis, seperti sastra, cerpen, puisi, News, tentang Kalteng, tutorial, informasi, pengalaman, dan karya tulis lainnya

Thursday, 22 October 2015

Cerpen - Kenangan Masa Kecil

Panas mentari siang ini tak membuatku beranjak pergi. Samar-samar kulihat lampu kota dan gedung tinggi dari kejauhan.Mobil lalung lalangpun tak kuhiraukan. Ku masih berdiri mematung, bagai patung yang ada ditaman pemuda. Diam tanpa ada kata. Pikiran jauh melayang tanpa batas.Angin sepoi terus berhembus, menerpa rambutku yang agak panjang. Baju batik bermotif benang bintik yang aku kenakanterus berkibar-kibar diterpa angin.Sesekali kudengar suara klotok lewat dan menimbulkan efek riak air yang indah.

Aku baru saja tiba dari negeri paman sam . Sudah 10 summer  dan 11 winter  aku meninggalkan tanah kelahiranku, merantau ke negeri orang. Bekerja sebagai staf kedubes RI di Amerika Serikat. Akhirnya setelah sekian lama aku kembali ketanah air untuk mengobati rindu yang tak terkira.
Sejak kedatanganku, aku mulai mengingat kenanganku akan kota ini. Kota yang telah banyak perubahan. Dulu hutan, sekarang penuh dengan gedung tinggi bertingkat dan banyak mobil bercat mengkilat. Tapi ingatan akan masa  kecil itu tak menghilang begitu saja, serasa baru kemarin pergi dan sekarang sudah pulang lagi.
Gerimis rintik mulai turun, tapi aku masih saja diam terpaku. Berdiri seorang diri diatas jembatan nan indah ini yang dihiasi lampu berwarna biru. Jembatan yang membelah sungai kahayan. Jembatan kebanggaan masyarakat kota palangka raya. Jembatan Kahayan  ini masih kokoh beridiri meskipun sudah berumur 18 tahun sejak diresmikan oleh Ibu Megawati, Presiden RI.
**
Siang itu cuaca terasa panas, mentari begitu bersemangat menyinari bumi. Aku tersentak kaget tak tercaya ketika aku mendapat surat dari kedutaan besar Indonesia di Amerika. Perlahan kubuka surat itu, dan ku baca surat itu.
“Yes, hore... ku diterima sebagai staf di kedubes RI”? sorak ku girang.
Dan segera aku beritahu ibu mengenai hal ini.
“mama, aku besok pagi berangkat ke Amerika, aku diterima kerja disana ma, sebagai staf kedubes”. Teriaku gembira
Mama hanya menggangguk dan dibarengi senyum manis diwajahnya.Dirumah, aku hanya tinggal berdua dengan ibu, ayah telah lama meninggal saat kapalnya tenggelam mencari ikan di sungai kahayan.
Hari keberangkatanku ke Amerika adalah besok pagi. Dengan segera aku merapikan baju dan berkemas. Sambil hati senang dan masih rasa tak percaya. Seorang anak pinggiran sungai kahayan bisa menjadi staf di kedubes RI di Amerika.
Bahasa inggris ku mulai lancar karna sejak kecil aku sering berbicara dengan wisatawan yang datang dan menyewa kelotokku untuk menyusuri sungai kahayan ini.Susur sungai  adalah mata pencaharianku, sekaligus aku bisa belajar bahasa inggris dengan native speaker . Seperti kata pepatah, “sambil menyelam minum air”.
**
Philadelphia , kota di amerika yang membuatku terpilih sebagai staf kedubes RI. Kota yang tidak kehilangan jati dirinya. Kota yang menggambarkan perjuangan kemerdekaan Amerika. Kota yang bernuansa abad pertengahan, yang dipercantik dengan gedungnya yang khas dan penduduknya yang ramah. Mereka sangat suka dengan keunikan budaya.
Aku bekerja sebagai staf di kota ini. Kegiatanku selain dikantor adalah sebagai tenaga pengajar tari khususnya tari dayak. Tari giring-giring yang paling banyak diminati. Hal ini membuatku semakin betah tinggal di Philadelphia. Ditambah banyaknya koleksi barang-barang tradisional khas Indonesia. Mulai dari sabang sampai merauke.
Musim terus berjalan, belum sekalipun aku pulang untuk menengok ibu. Summer-winter terus kulalui., rasa kangen akan tanah kelahiran dan coklatnya sungai kahayan semakin menyayat di kalbu. Dan akhirnya aku putuskan untuk kembali ke kota Tambun Bungai .
Di musim winter yang ke 11 ini aku pulang. Dengan diantar oleh teman-teman dari kedutaan, aku berangkat menuju bandara. Tangis teman-teman pun pecah seiring dengan kepergianku.
Sekejap kemudian pesawat mulai take-off dan mulai meninggalkan Amerika menuju kota cantik palangka raya, tanah kelahiranku.
**
Dari balik kaca pesawat, aku sudah mulai merasakan bahwa kepulauan Indonesia semakin dekat. Hati terus tak sabar menanti, ingin melihat pulau borneo. Dari balik kaca, aku terus mengenang dan membayangkan bagaimana wajah tanah kelahiranku.
Tak terasa bandara Internasional sukarno Hatta, jakarta telah terlihat. Sekejap kemudian, kakiku telah kembali menginjak tanah air Indonesia.  10 tahun lalu, aku berdiri di atas tanah ini untuk meninggalkan tanah air, tapi sekarang aku kembali.
Lalu kemudian aku meneruskan perjalanan ke kota palangka raya. Terdengar bunyi pesawat yang mulai meninggalkan bandara mengantarkan aku untuk menghapus rindu ini. Didalam pesawat aku berkenalan dengan teman duduk ku, dia namanya santi. Dia aslidari banten, ingin liburan melihat kota palangka raya dan hutannya yang masih asri. Senyum manis terlintas di wajahnya. Kami banyak mengobrol mengenai kalteng. Dia juga cerita bahwa dia baru menyelesaikan kuliahnya di Harvard university.
**
Door.....!! teriak seseorang sambil menepuk pundakku
Sontak akupun kaget dan melihat siapa yang mengejutkanku ini.
“Hai, anci... gimana kabar kamu?”,tanyaku sembari menjabat tangannya
“ya, beginilah.. masih jadi tukang perahu... tidak seperti kau yang jadi staf dan pergi keluar negeri,.” Jawab anci
“eh,,, aku baru saja sampai nie, kangen pengen jalan-jalan, kayak dulu.” Ajakku
“eh boleh juga.. kebetulan aku bawa motor.. ya lumayan lah buat jalan-jalan.” Ajak anci
“oke dech.. sipp...” jawabku
Dia adalah anci, teman masa kecilku. Kami sering bermain bersama. Teringat kami sering bermain sebumbun  sewaktu mandi. Kami berlomba untuk menjadi juara dalam permainan ini. Kami tinggal diHuma Betang . Anci adalah tetanggaku. Pintu kamipun berdekatan.
**
Tak terasa senja mulai tiba. Aku diantar anci pulang kerumah. Akupun terheran dengan keadaan yang ada. Kemana rumah huma betangku?. Kok, semua telah berubah menjadi bangunan tembok. Akupun diantarnya ke sebuah rumah bercat warna biru dikompleks perumahan dekat jembatan kahayan. Tampak seorang wanita tua keluar. Ya.. dia adalah ibuku.
Aku berlari kecil menuju rumah, dan kemudian disambut hangat pelukan ibu. Tanpa peduli dengan apapun, ku peluk tubuh ibu dengan erat. Air mata berlinang diujung kelopak matanya. Tetangga pun ikut terharu melihat kami berpelukan. Sekejap kemudian, aku telah hanyut bercerita dengan ibu. Mencurahkan segala rindu dihati.
Diluar terdengar suara riuh anak-anak sedang bermain, ada yang bermain sepak bola, lari dan ayunan. Akupun duduk didepan pintu. sembari melihat anak-anak bermain. Aku begitu menikmati permainan mereka. Sesekali tertawa karna melihat mereka jatuh.
Aku melamun membayangkan masa kecilku. Tak berapa lama,lalu ancipun datang dan duduk disebelahku sambil membawa egrang .
“anci, kamu masih ingat sewaktu kita main tembak tutus .?” Tanyaku
“iya... kamu kalahkan?” candanya, sembari mencubit tanganku
“enak aja, kamu tuh yang kalah..” jawabku tak mau kalah
“ya,, tapi sayang.. sekarang sudah tidak ada lagi yang mau bermain mainan seperti kita dulu.” Jawab anci dengn nada sedih.
“iya, mereka lebih suka bermain video game.” Jawabku
“ehm,,, sudhlah....... ayo kita maen egrang.” Ajak anci
“ayo, siapa takut. Kita balapan,” ajak ku
Senja itu, lagi-lagi aku mengulang masa kecilku bermain bersama anci.
 
Sungai Kahayan, Palangka Raya

**
Malam itu aku jalan-jalan keliling kota palangka raya, disudut kota masih ada sekelompok anak muda yang masih bermain bola api, sepak sawut namanya. Akupun berhenti dan melihat permainan mereka. Akupun teringat ketika malam meninggalnya ayah, banyak yang bermain sepak sawut. Tak terasa air matapun mengalir membasahi pipi. Tak mau larut dalam kesedihan, akupun turut serta bermain sepak sawut bersama mereka.
Setelah puas bermain, akupun meneruskan perjalananku. Jam telah menunjukan pukul 21.00. aku berhenti disalah satu kafe malam di dekat bundaran kota. Aku memesan jus jeruk dan jagung bakar, sungguh malam yang indah dengan ditemani lampu malam serta keramaian kota dimalam hari.
**
Di Pagi yang cerah ini aku dan Anci akan melakukan susur sungai kahayan. Menaiki kapal ini, membuat aku teringat dengan masa lalu. Dengan ditemani suara gemericik air serta kicauan burung-burung dan suara hewan menemani sepanjang perjalanan kami.
Hari ini kami membawa beberapa penumpang yang semuanya berasal dari luar kalteng. Tujuan kami adalah menuju desa kanarakan, desa yang masih hijau nan asri. Lama perjalanan pun tak kami pikirkan, keindahan alam pinggir sungai menemani kami dan menghilangkan rasa letih kami. Aku membantu Anci mengemudikan perahu ini.
Ada yang istemewa dalam perjalanan ini. Ada santi dalam perahu kami. Dia sungguh membuatku terpesona. Tubuh dengan balutan baju batik motif benang bintik membuat dia semakin cantik saja.
**
“hi.. santi.. gimana kabar? “ sapaku
“ hi.. Baik.. kamu sendiri gimana? Udach kemana aja?” tanya santi padaku
“baik juga.. aku belum pergi jauh sich, baru kebundaran dan keliling kota.” Jawabku singkat
“owh, kalau aku kemarin ke bukit karmel di tangkiling. Jawabnya dengan senyum manis diwajahnya
Ketika kami sedang asyik mengobrol, Brakkk................tiba-tiba kapal menabrak kayu yang hanyut. Kapal pun goyang dan kamipun kaget. Karna santi duduk dipinggir kapal, dia pun terjatuh ke sungai. Tanpa komando, aku terjun untuk menolong santi.
Dan terdengar suara,, hei, hei bangun...!!! suara itu semakin lama semakin keras. Perlahan kubuka mata dan kulihat aku masih didalam kamarku di philadelphia. Teman-temanku menertawakanku karna aku basah kuyub oleh keringat.
“hei, siapa tu santi? Bidadari ya?, dipanggil-panggil terus. ” Ledek marcel
Aku cuma tersenyum saja
“bangun, mandi, udah jam berapa 7 pagi ni. “ teriaknya
Spontan mendengar sudah jam 7, aku langsung bangkit dan bergegas untuk menjalankan rutinitasku sebagai staf dikedubes RI. Sambil bersiap-siap masih terngiang mengenai kejadian dalam mimpi yang seakan nyata terjadi. Layar komputerku masih menyala dan terlihat gambar-gambar kota palangka raya.
Karna saking rindunya dengan ibu dan kampung halaman sampai-sampai terbawa dalam mimpi. Ku berharap bahwa kalteng tidak kehilangan jati diri akan budaya seperti kota philadelphia yang masih terus mempertahankan keasliannya. Dalam hati kecil berharap, semoga santi benar-benar ada.

Palangka  Raya, 17 Oktober 2013 
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Statistik

Choirul Fuadi