Blog ini memuat berbagai karya tulis, seperti sastra, cerpen, puisi, News, tentang Kalteng, tutorial, informasi, pengalaman, dan karya tulis lainnya

Thursday, 24 August 2017

Tenun Ikat Kalimantan : Kampanye Rayakan Kekayaan Warisan Dunia

Rayakan Kekayaan Warisan Budaya Indonesia, salah satunya melalui kampanya lewat produk.

By Choirul Fuadi

Sore itu, pergi ke koperasi Mahasiswa untuk membeli pasta gigi. Langsung saja menuju rak yang penuh dengan pasta gigi. Langsung ku kunjungi rak yang penuh dengan pasta gigi yang sangat lekat dengan warna merah. Tentu sebagian dari kita sudah mengenal produk tersebut.

Ada satu yang membuat saya tertarik untuk melihat, membaca dan kemudian membeli. Dibungkus pasta gigi, terdapat gambar yang sudah tidak asing. Motif Dayak. Dalam tulisan produk tersebut, bertuliskan "Rayakan Kekayaan Warisan Budaya Indonesia: Ikat Kalimantan - melambangkan "kegigihan dan Perjuangan yang tak pernah hilang".

Sekilas, mungkin hal ini biasa, namun jika kita lihat seksama, melalui hal kecil ini, kini perhatian para pelaku usaha sudah merambah dalam budaya kita, kampanye atau memperkenalkan budaya nusantara melalui produk mereka. Bisa jadi, lewat ini, merupakan strategi bisnis mereka.

Lalu apa itu "Ikat Kalimantan"?. Dalam membahasnya, tentu tak bisa lepas dari yang namanya budaya tenun atau menenum.

Menurut KBBI, Tenun adalah hasil kerajinan yg berupa bahan (kain) yg dibuat dr benang (kapas, sutra, dsb) dng cara memasuk-masukkan pakan secara melintang pd lungsin: abah-abah (alat, perkakas) --; industri (perusahaan) --;
-- ikat - salah satu teknik bertenun, spt yg terdapat di Nusa Tenggara;
-- selerang - jenis kain tenun;

Menurut cerita, dahulu menenun menjadi kewajiban bagi setiap perempuan dari Suku Dayak. Tujuanya, dalam hal pemenuhan kebutuhan akan pakaian serta keperluan adat istiadat.

ternyata, dalam menenun dalam menghasilkan karya tenun ikat ini memerlukan tahapan yang cukup panjang; yakni dimulai dari penanaman kapas, kemudian pembuatan benang/memintal, setelah itu ngaos (peminyakan benang), lalu mewarna/mencelup. Kalau sudah diwarna, langkah selanjutnya mengikat motif, terus kemudian menenun. terakhir menjadikan pakaian adat. Gimana, rangkaian proses  panjang bukan?.

Uniknya, dari beberapa tahapan tersebut dilakukan ritual-ritual tertentu yang dipercaya sebagai roh untuk membangkitkan semangat dalam bekerja maupun untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Ini merupakan tradisi dan kebudayaan dari leluhur masyarakat suku Dayak Desa yang dilakukan puluhan tahun silam.

Tidak sedikit motif pada kain tenun ikat Dayak berasal dari inspirasi, mimpi dan pengetahuan para leluhur. Nah dari hasil tersebut, motif tersebut mengandung makna begitu mendalam sebagai nasehat, petuah, pantangan, dan semangat dalam kehidupan keseharian.

Lalu bagaimana dengan bahan baku? yakni benang  dan pewarna. Benang diambil dari tumbuhan kapas. Biasanya ditanam di ladang pada musim sesudah panen, dan selanjutnya diolah atau dipintal sendiri menjadi benang. Kalu pewarna berasal dari alam yaitu tumbuh-tumbuhan (daun, akar, batang, kulit, buah, umbi, biji, dll), maupun binatang (lemak ular sawa, labi-labi dan sebagainya).

Peralatan yang dipergunakan dibuat sendiri secara sederhana menggunakan bahan alam yang tersedia di lingkungan pemukiman dan menggunakan bahan yang berkualitas baik, yaitu dengan kayu ulin, rotan, dan bahan lain yang dipercayai berkualitas baik. Peralatan terdiri dari alat untuk memisahkan serat kapas dengan bijinya, alat memintal (gasing), alat membentang benang, dan alat menenun. Inilah rangkaian proses yang ditelusuri dalam menghasilkan suatu karya seni kain tenun ikat Dayak sebagai salah satu kekayaan budaya masyarakat Dayak khususnya dan bangsa Indonesia umumnya.

Sekarang ini, Jumlah Pengrajin tenun di Pulau Kalimantan cukup banyak, sehingga pengrajin di Pulau Kalimantan menjadi salah satu produsen tenun yang diperhitungkan di tanah air. Jika berbicara tentang corak, sudah pasti motif tenun ikat kalimantan tidak kalah beragamnya dengan tenun ikat di pulau lain di Indonesia.

Sumber


Beberapa contoh produksi tenun Kalimantan yang sudah diakui oleh mancanegara antara lain; tenun Sambas dan Sintang dari Kalimantan Barat, tenun Doyo dari Kalimantan Timur, tenun Pagatan dari Kalimantan Selatan dan masih banyak yang lain. Bahkan tenun Sambas, sempat mendapat klaim dari Malaysia. Hal ini membuktikan bahwa kain tenun asal Kalimantan sangat layak dijadikan harta budaya yang patut untuk dilestarikan.

Kain Tenun Ikat Doyo
Kain dari serat daun doyo ini merupakan hasil kerajinan yang hanya dibuat oleh wanita-wanita suku Dayak Benuaq yang tinggal di Tanjung Isuy, Kali-mantan Timur. Biasanya motif ikat Doyo berbentuk bunga, daun serta hewan yang hidup di alam sekitar Tanjung Isuy. Warna kain sangat khas, yakni merah, kuning, coklat dan kehijauan, kesemuanya dibuat dari pewarna alam.

Tenun Ikat Sintang
Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, memiliki karya tenun ikat unik sebagai kain adat tradisional. Kain ini kerap dipergunakan untuk upa-cara adat, upacara panen, dan sebagainya. Pola-pola yang sangat menarik dan merupakan ciri khas tenun daerah Sintang adalah Nabau, Naga, Buaya, Pucuk Rebung, Naga, dan beberapa motif orang-orangan hingga motif pepohonan.  Kain tenun ikat dibuat masih dalam skala sebagai pengisi waktu luang –terutama para wanita Dayak dalam kesehariannya.


Beralih ke ragam motif

Dalam pembuatan kain ikat ini terdapat empat macam warna utama, yaitu merah, hitam, kuning, dan putih. Warna merah bisa di peroleh dari daun mengkudu (Morinda Citrifolia) atau kulit kayu salam. Warna hitam didapatkan dari daun renggat atau lumpur. Warna kuning didapatkan dari kunyit (Curcuma longa) dan temulawak (Curcuma xanthorhiza).

1, Tenun Kebat

Kain ini bermotifkan bunga, manusia, dan naga. Warna dasarnya coklat dengan motif putih

2.Tenun Sidan

Kain ini bermotif bunga dan orang saja. Warnanya lebih bervariasi tergantung permintaan orang yang memesannya.

3. Kain tenun songket

Warna dan motifnya lebih bervariasi dibandingkan jenis tenunan pertama dan kedua, sehingga cara pengerjaannya pun lebih rumit dibandingan kedua jenis tenunan sebelumnya. Motif dasarnya bisa berupa naga, bunga, dan orang-orangan atau perpaduan ketiganya.

4. tenun plin slam

Hanya ibu-ibu generasi tua yang mampu menenun kain jenis ini. Motifnya jauh lebih rumit dan pengerjaanya jauh lebih lama.


Mari kita rayakan warisan kekayaan leluhur. Indonesia itu Kaya dan mari kita cintai dan jaga kekayaan kita.


Sumber :
http://mahligai-indonesia.com/ragam-budaya/tenun-ikat-kalimantan-yang-memikat-2646
https://absoluteborneo.wordpress.com/tag/tenun-ikat-kalimantan/
http://specialpengetahuan.blogspot.co.id/2015/07/kain-tenun-ikat-dayak-iban-kalimantan.html
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Statistik