tukangterjemah.com

Jasa layanan alih bahasa berbagai dokumen, laporan, makalah, buku dan interpreting baik bahasa Indonesia – Inggris maupun bahasa Inggris – Indonesia.

JadwalSeminar.web.id

Menyediakan informasi seputar seminar, pelatihan, lomba dan event. Update info kamu dengan like Fanspage jadwalseminar

Dream Fashion store

Sedia baju mom and kids. Kunjungi blog dan dapatkan harga menarik

Pasang Iklan anda disini

dapatkan harga menarik kami. hubungi kami dan pasang iklan anda sekarang juga

Pasang Iklan anda disini

dapatkan harga menarik kami. hubungi kami dan pasang iklan anda sekarang juga.

Saturday, 28 May 2016

Rezeki itu banyak bentuknya



  السَّلاَÙ…ُ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ ÙˆَرَØ­ْÙ…َØ©ُ اللّÙ‡ِ ÙˆَبَرَÙƒَاتُÙ‡ُ

Kemarin hujan mulai jam 9 pagi, seorang tukang rujak numpang berteduh di teras ruko saya.

Masih penuh gerobaknya, buah-buah tertata rapi. Kulihat beliau membuka buku kecil, rupanya Al Quran. Beliau tekun dengan Al-Qurannya. Sampai jam 10 hujan blm berhenti.

Saya mulai risau karena sepi tak ada pembeli datang.

Saya keluar memberikan air minum.

“Kalau musim hujan jualannya repot juga ya, Pak… ” .. “Mana masih banyak banget.”

Beliau tersenyum, “Iya bu.. Mudah-mudahan ada rejekinya.. .” jawabnya.

“Aamiin,” kataku.

“Kalau gak abis gimana, Pak?”. tanyaku.

“Kalau gak abis ya risiko, Bu.., kayak semangka, melon yang udah kebuka ya kasih ke tetangga, mereka juga seneng daripada kebuang. kayak bengkoang, jambu, mangga yang masih bagus bisa disimpan. Mudah-mudahan aja dapet nilai sedekah,” katanya tersenyum.

“Kalau hujan terus sampai sore gimana, Pak?” tanyaku lagi.

“Alhamdulillah bu… Berarti rejeki saya hari ini diizinkan banyak berdoa. Kan kalau hujan waktu mustajab buat berdoa bu…” Katanya sambil tersenyum.

“Dikasih kesempatan berdoa juga rejeki, Bu…”

“kalau gak dapet uang gimana, Pak?” tanyaku lagi.

“Berarti rejeki saya bersabar, Bu… Allah yang ngatur rejeki, Bu… Saya bergantung sama Allah.. Apa aja bentuk rejeki yang Allah kasih ya saya syukuri aja. Tapi Alhamdulillah, saya jualan rujak belum pernah kelaparan.

“Pernah gak dapat uang sama sekali, tau tau tetangga ngirimin makanan. Kita hidup cari apa Bu, yang penting bisa makan biar ada tenaga buat ibadah dan usaha,” katanya lagi sambil memasukan Alqurannya ke kotak di gerobak.

“Mumpung hujannya rintik, Bu… Saya bisa jalan ..Makasih yaa ,Bu…”

Saya terpana… Betapa malunya saya, dipenuhi rasa gelisah ketika hujan datang, begitu khawatirnya rejeki materi tak didapat sampai mengabaikan nikmat yang ada di depan mata.

Saya jadi sadar bahwa rizki hidayah, dapat beribadah, dapat bersyukur dan bersabar adalah jauh…jauh lebih berharga daripada uang, harta dan jabatan…

***

Selalu semangat & istiqomah kawan


  1. dikutip dari pesan bc whatsapp

Wednesday, 25 May 2016

Pertanian di Kabupaten Barito Utara

Barito Utara – Indonesia sejak dulu dikenal dengan Negara Agraris atau pertanian. Bahkan, ada lagu yang menyatakan bahwa tanah surga, tongkat kayu dan batu menjadi tanaman. Indonesia juga pernah menjadi Negara pengekspor beras.

Gerakan untuk penambahan perluasan dan peningkatan produksi padi. Pengembangan pertanian dengan teknologi pertanian merupakan satu hal yang harus dilakukan oleh petani dan dinas terkait. Pemerintah melalui Dinas Pertanian berupaya melakukan inovasi pertanian dengan menggunakan teknologi pertanian.
Para petani di Barito Utara, khususnya padi ladang mencoba melakukan penanaman di musim tanam April-September, yang biasanya musim tanam Oktober- Maret.

Kepala dinas pertanian, perikanan dan peternakan Barito Utara, Setia Budi mengungkapkan bahwa pihaknya akan mendampingi para petani dalam penanaman padi
"Kami akan melengkapi dengan sarana  pompanisasi, sehingga penanaman padinya tidak ketergantungan dengan kondisi alam," ungkapnya seperti dikutip di Borneo News.co.id.

Kabupaten Barito Utara juga akan melakukan program ujicoba untuk penanaman padi organik menggunakan pupuk alam dan diharapkan dapat berhasil dilakukan. Dan juga merencanakan untuk daerah-daerah budidaya sapi ini menanam padi organik. 

Budi menambahkan bahwa juga melakukan program perluasan sawah yang telah bersingkronisasi dengan pemerintah pusat bahwa percetakan sawah  yang ditargetkan akan dilakukan sampai akhir 2019 dengan target 12.000 hektare. 

Potensi kabupaten Barito Utara, sawah yang dapat digarap mencapai 14.000 hingga 16.000 hektare. Dengan perlusan sawah sebesar 12.00 hektare  ini dapat dilakukan, kabupaten Barito Utara tidak hanya akan swasembada beras, akan tetapi dapat menjadi surplus beras.

Kemudian Setia Budi berkeinginan, program ini dapat tercapai dengan pola pendekatan 1 KK dapat memiliki 2 hingga lima hektare cetak sawah. Ia mengakui mendapat lampu hijau dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat bahwa masyarakat boleh mandapatkan dua hingga lima hektare per kepala keluarga.

Pada 2016, Barito Utara juga mendapat alokasi penanaman jagung hibrida seluas 962 hektare dan kedelai seluas 306 hektare, namun untuk sementara pertanian kedelai difokuskan di Kecamatan Gunung Timang yakni di Desa Batu Raya I dan Batu Raya II.

Sebanyak 44 Persen Warga Katingan Putus Sekolah

Katingan – Fakta mengejutkan datang dari kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah. Pada upacara peringatan HUT ke 59 Kalteng, Hari Kebangkitan Nasional ke 108, Hari Pendidikan Nasional ke 127 dan Hari Otonomi Daerah ke 20 di halaman kantor bupati Katingan, Bupati Katingan, Ahmad Yatengli mengungkapkan bahwa ada 44 % warga katingan putus sekolah.
"Sekarang yang menjadi masalah terkait pendidikan di Kabupaten Katingan ini adalah menyikapi angka putus sekolah yang masih tinggi. Berdasarkan data yang ada, warga yang menyekolahkan anaknya dari SD ke SMP mencapai 98 persen. Sedangkan dari SMP ke SMA baru 56 persen. Artinya ada 44 persen masyarakat kita putus sekolah," ungkapnya seperti dikutip BorneoNews.co.id. 

Menanggapi hal tersebut, Ahmad Yatengli dan seluruh pihak terkait akan terus mengejar angka 44 %, sehingga dimasa depan tidak ada lagi warga Katingan yang putus sekolah. Hal tersebut juga selaras dengan visi Katingan yakni sehat juga cerdas dan terbuka, sehingga  masalah pendidikan di daerahnya juga menjadi prioritas utama.

Selain masalah putus sekolah, Ahmad Yatenglie juga menyinggung kualitas pendidikan di daerahnya. Ia menilai hal ini sangat penting bagi masyarakatnya, terutama saat anak sekolah sudah selesai menempuh wajib belajar 12 tahun itu. 

Untuk itu tantangan ke depan masyarakat termasuk Kabupaten Katingan yaitu menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Menurutnya, masalah pendidikan tidak hanya tanggung jawab pemerintah daerah, akan tetapi merupakan tanggung jawab Pemerintah Provinsi Kalteng dan pusat.
By Choirul Fuadi

Tuesday, 24 May 2016

Cerpen - Kawasan Hijau

Sejuk udara pagi ini. Kulihat senyum mentari pagi serta hawa sejuk menyapaku. Embun, tanaman hijau, dan orang-orang yang berlari dipagi ini. Kulihat disekelilingku, penuh dengan canda tawa anak-anak. Tanaman tertata rapi. Hijaunya hutan di ujung pandanganku. Angin sepoi-sepoi membelai mesra rambutku. Rumput bergoyang seakan mengajakku bicara. Entah apa yang ingin dia katakan padaku.

Terlihat dari jauh, anak-anak sedang asyik mandi disungai yang jernih airnya. Beberapa orang sibuk dengan pekerjaan mengurus tanaman. Terlihat mereka bekerjasama satu sama lain. Diujung jalan ini tertulis jalan hijau raya, dan juga gapura indah yang membuatku kagum. Gapura yang betuliskan, “Kawasan Hijau”.

Gapura yang sudah diresmikan sejak setahun lalu itu, hingga kini masih kokoh berdiri. Panjang cerita masih tertanam jelas dimemori betapa berat pengorbanan yang harus dilalui untuk mencapai hal itu. Gapura perlambang keberhasilan dan hijaunya kawasan ini.

Jika terkenang akan masa dimana daerah ini kekeringan. Lahan-lahan ini kering. Sungai tidak mengalir sedemikian deras. Bukit belakang desa terlihat gundul. Sering terjadi tanah longsor. Asap membumbung tinggi, hasil dari ulah petani yang membakar lahan.

Hutan di Taman Nasional Tanjung Puting , Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah


**

Kisah ini aku mulai ketika aku baru saja lulus dari sarjana kehutanan di salah satu Universitas termuka di Pulau Jawa. Aku berasal dari daerah kampung kecil di pinggiran kota Malang. Hingga aku selesai kuliah, desaku berubah total. Aku tak mengerti apa yang terjadi.

Randu Agung, dengan deretan pegunungan yang hijau kini berubah kosong tak berpenghuni, pohon-pohon lenyap. berganti kesunyian penuh dengan petak-petak sawah. Desa yang dulunya hijau kini hilang warnanya.

Setelah sebulan aku tinggal didesa, aku mulai mengerti. Mengapa semua ini bisa terjadi. Aku bersama kedua sahabatku, Anci dan Emil bersatu, tekad dan niat untuk merubah semua ini. Mereka adalah teman kuliahku. Meski mereka bukan penduduk asli desa, tapi mereka bertekad untuk membantu.

Kami mulai menelusuri sebab-musabab mengapa semua bisa terjadi. Hari berganti hari, kami mulai menemukan titik temu akar dari semua masalah ini. Semua berasal dari Juragan Totok, seorang juragan kaya raya yang tinggal didesa sebelah.

Kami mulai mencari solusi. Mulai dari menghubungi Pak Lurah, Warga, Pak Camat, bahkan sampai ke Juragan Totok. Tapi semua belum terlihat hasil yang jelas. Yang membuat kami tercengang lagi adalah tanah yang ada hampir semua telah menjadi hak milik juragan totok, meski itu hanya sekedar Surat Keterangan Tanah (SKT).

Bahkan, dengan tanahnya yang sudah sedemikian luas, dia ingin membuka lahan lagi. yakni dipinggir sungai. dia bahkan tidak peduli dengan keadaan sungai itu, airnya keruh dan penuh dengan sampah. tapi keinginannya menjadi tuan tanah sedemikian besar.

**

Kami bertiga tidak tinggal diam. Kami terus berjuang mencari bantuan hingga kekota. Keteman-teman Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Akhirnya kami bertemu dengan anak-anak KOPHI (Koalisi Pemuda Hijau Indonesia). Mereka bersedia membantu dan akan mengirimkan bibit-bibit pohon serta sukarelawan untuk menanam disekitar aliran sungai dan tanah-tanah tandus disekitar bukit.

Akhirnya hari yang ditentukan tiba. Kami bersama-sama anak KOPHI menanam pohon. Jam 7 hingga jam 10 siang. Terik sinar mentari sama sekali tak kami hiraukan. Warga yang kami hubungi untuk membantu cuma menggelengkan kepala tanda tidak setuju. Tak ada satupun warga yang datang.

Rata-rata warga bermata pencaharian sebagai petani. Sebagian besar mereka bekerja untuk Juragan Totok. Itulah sebabnya mereka tidak mau ikut membantu.

Hari ini kami telah selesai menanam pohon didaerah aliran sungai. Kemudian hari berikutnya kami mulai menanam di daerah bukit. Meski kami dengan jumlah personel yang seadanya tapi itu tidak menyurutkan semangat juang kami.

Akhirnya, berita penanaman pohon ini sampai juga ditelinga Juragan Totok. Juragan Totok marah bukan main. Bukannya mendukung gerakan penghijauan yang kami lakukan, dia malah mendatangi kami dan mengancam akan mencelakai kami jika terus melakukan reboisasi ini. Dia mengancam malah akan menambah luas sawahnya dengan membuka hutan yang tersisa.

**

Esok paginya, ketika kami akan menyiram pohon yang telah kami tanam, kami tidak menemukan satu pohon pun. Kami mengecek semua pohon telah bersih, dicabut oleh seseorang. Kami mencari kesana kemari, dan kami menemukan tumpukan pohon yang baru kami tanam kemarin di tempat sampah dengan kondisi sudah terbakar, hanya ada beberapa sisa pohon yang masih belum terbakar.Dari sisa yang tidak terbakar, maka kami tanam kembali.

Dua hari kemudian, ketika kamis sedang menyiram pohon, datang segerombolan preman. Mereka semua berbadan besar dan kekar, tiba-tiba datang dan mengancam kami. Kami tidak bisa apa-apa dan  cuma diam saat itu. selain kami hanya bertiga, badan kami juga kecil. Kami kalah jumlah dan postur.

Meski kami sudah mendapat ancaman seperti itu, kami sama sekali tidak takut. Kami terus berjuang menghijaukan tanah ini. Pohon-pohon yang kami tanam terdiam seribu bahasa, bergoyang-goyang tertiup angin seakan ingin mengatakan sesuatu. Entah apa yang ingin mereka katakan, apakah mereka iba dengan kedaan kami.

**

Dua bulan kemudian. Disore hari yang indah, kami mulai menapaki jalanan kecil di kawasan perbukitan. Terlihat pohon-pohon yang kami tanam telah hijau. Mereka seakan tersenyum akan kedatangan kami. Terus bergoyang-goyang diterpa angin sore.

Tiba-tiba segerombolan orang bertopeng menyergap kami. Tangan dan kaki kami diikat. Kami coba berontak tapi tidak bisa. Teriakan minta pertolongan dari kami tidak ada yang mendengar, karna lokasi cukup jauh dari desa. Kami hanya bisa pasrah ketika bertubi-tubi pukulan dari kepalan-kepalan tangan kasar itu melayang dan mendarat ketubuh kami. Sekali-kali mengenai didaerah wajah dan kepala. Darah terasa berhenti. Nafas tersengal-sengal. Badan pegal menahan rasa sakit.

Badan kami dimasukkan didalam karung. Lalu mereka menyeret kami dengan kasarnya. Tidak tahu kemana arahnya. Suasana terasa gelap. Tiba-tiba kami jatuh pingsan.

**

Malam pun datang, orang tua saya merasa kebingungan dirumah karna saya belum juga pulang. Akhirnya dibantu dengan warga mereka mencari saya. Keliling desa, sudut kampung. Dibukit dan ke persawahan.

Dimalam yang indah ini, mereka menemukan kami terikat dan tergeletak tak berdaya di sebuah gubuk kecil ditengah sawah yang letaknya cukup jauh dari desa. Luka lebam disekujur tubuh. Mereka membawa kami ketika kami masih dalam keadaan pingsan.

Pagi harinya kami siuman dan mulai menceritakan apa yang terjadi. Banyak pendapat mengenai hal ini. Tapi kebanyakan pendapat mengarah kepada Juragan Totok yang memang tidak senang dengan adanya kami.

Mereka kemudian beramai-ramai mendatangi rumah Juragan Totok untuk meminta pertangggungjawaban. Tapi Juragan Totok dengan sombongnya mengelak dan menantang warga apabila ada yang berani kepadanya.

Orang suruhan Juragan Totok pun sering berbuat onar dan menindas warga apabila tidak mau menjual tanahnya. Bahkan warga yang membantu kami juga ditindasnya. Mereka menganiaya warga yang tak bersalah.

**

Disuatu malam yang penuh dengan bintang, kami bertiga dan Pak Lurah serta seluruh warga berkumpul dibalai desa untuk membahas masalah ini. Akhirnya mereka sepakat untuk mogok kerja dan akan membantu kami melakukan penanaman pohon. Luka badan yang kami terima ternyata menyadarkan warga.

Hari berikutnya kami bergotong royong melakukan reboisasi. Sebagian warga membuat saluran irigasi. Kebetulan hujan sudah tidak lama turun, akhirnya kami memanfaatkan sumber mata air kecil diatas bukit.

Juragan Totok marah bukan main atas tindakan kami ini. Tapi ketika melihat kami bergotong royong seluruh warga desa, akhirnya dia mengurungkan niatnya. Kami tidak tahu apa yang dia rencanakan.

**

Suatu ketika, Juragan Totok beserta istri pergi kesawah untuk melihat kerja para petani yang menggarap sawahnya. Dengan memakai sepatu boot, topi rimba dan jaket kulitnya. Mereka membawa bekal untuk mereka santap di tengah sawah. Mereka begitu gembira melihat sawah-sawah yang luas dan padi yang mulai menguning.

Ketika mereka sampai digubuk kecil di kaki bukit, tiba-tiba cuaca berubah. Petir menggelegar, angin berhembus keras. Perlahan langit berubah menjadi gelap.Angin rintik membawa air.Mereka kemudian berlari menuju gubuk kecil.

Hujan pun turun dengan derasnya. Angin dingin menembus kulit mereka.Air turun begitu derasnya. Tiba-tiba ada suara aneh dari atas bukit. Ternyata itu adalah tanah longsor. Mereka berlari tunggang langgang. Mereka terjatuh kesawah. Badan mereka kotor terkena lumpur. Untung saja mereka bisa menyelamatkan diri. Tidak ada korban jiwa pada kejadian itu.

**

Kejadian itu membuat juragan totok merenung. Dia sempat mengunci pintu selama bebrapa hari. Akhirnya itu semua membuat menyadarkan Juragan Totok akan pentingnya reboisasi. Dia merasa betapa ngeri longsor tersebut.

Dia kemudian mendatangi pak lurah dan kami bertiga. Akhirnya di sabtu siang itu, seluruh warga dikumpulkan dibalai desa. Juragan Totok lah yang mengumpulkan kami semua. Seluruh warga datang semua. Ternyata tim dari dinas kehutanan dan LSM KOPHI datang juga.

Juragan Totok menyampaikan permemintaan maaf kepada kami semua. Dan dia juga akan membantu sumbangan tenaga dan uang untuk membantu menghijaukan desa. Dinas kehutanan juga sudah membawa bibit pohon akasia.

Atas kesepakatan bersama akhirnya seluruh warga berjanji akan menanam pohon dan bunga dilokasi rumah mereka.Bibit pohon yang ada akhirnnya kami tanam di bukit dan juga dipinggiran sungai.

Gotong royong pagi minggu, kami bertiga bersma seluruh warga, juragan totok dan anak buahnya serta dibantu oleh teman-teman KOPHI. Pekerjaan kami terasa enteng. Kami bertiga bisa tersenyum lega. Setiap pagi menyiram tanaman.

Hari berganti hari, tanaman mulai menhijau. Tanah gundul tanpa pohon mulai kelihatan hijaunya. Angin sejuk sepoi-sepoi membelai lembut tubuh kami.

**

Tahun berganti tahun, hijau desa kami begitu terlihat. bahkan sebagian warga ada yang beralih profesi sebagai penjual tanaman hias. Perekonomian warga pun berangsur membaik.

Saat itu aku diterima menjadi seorang wartawan koran lokal. Aku kemudian menulis artikel tentang desa kami. Dia bahkan mengirim tulisannya ke koran nasional. Bahkan berita ini menjadi berita hangat surat kabar.Berita itu sampai ditangan pejabat-pejabat pemerintah. Bahkan menteri kehutanan juga membaca berita tersebut.

Hingga pada suatu pagi yang cerah, datang rombongan dari dinas dan pejabat setempat. Mereka meninjau langsung. Seharian penuh kami melayani mereka, meski dengan dadakan, tapi sudah cukup membuat mereka puas dan kagum akan keindahan dan hijaunya desa kami.

Seminggu kemudian turun surat keputusan dan desa kami dinyatakan sebagai kawasan hijau. Dan atas bantuan dana dari pemerintah setempat, desa kami membuat gapura nan indah itu dan bertuliskan kawasan hijau.

Hingga kini gapura itu masih berdiri kokoh. Penduduk yang ramah akan alam. Juragan Totok yang sekarang mengembangkan bisnis kayu jati. Penduduk yang bermata pencaharian sebagai penjual tanaman hias. Sedang aku, masih meniti karierku dibidang jurnalistik. Kedua temanku telah kembali ke kalimantan untuk penghijauan dan menyelamatkan primata disana.

*  The End   *

Arga Mulya, 30 November 2013

Edited in Yogyakarta 30 December 2015

I dedicated this story for Anci and Emil, my friend.

SMAN 1 Muara Teweh Mendapatkan Piagam Penghargaan Kejujuran

SMA Negeri 1 Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara (Barut) meraih penghargaan sebagai sekolah berintegritas dalam menyelenggarakan Ujian Nasional (UN) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), dengan nilai tertinggi IIUN 83,52.

SMAN 1 menjadi satu-satunya sekolah di Kabupaten Barito Utara yang mendapatkan penghargaan sekolah berintegritas dalam penyelenggaraan UN 2015. Hal ini dikarenakan prestasi SMAN 1 Muara Teweh dalam mengintegritaskan nilai-nilai kejujuran dalam proses pembelajaran sampai tahap evaluasi. 
SMAN 1 Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah

Kepala SMAN 1 Muara Teweh, Razikinnor mengatakan selama melaksanakan UN, SMAN 1 Muara Teweh tidak pernah ada temuan indikasi kecurangan, sehingga tim pemantau meyakini SMAN 1 tetap berintegritas mempertahankan kejujuran dan akhirnya sukses menyelenggarakan UN dengan baik.

Sehingga, membuat pihaknya semakin terpacu untuk berinovasi meningkatkan mutu pendidikan, bukan hanya prestasi akademik, tetapi juga pendidikan karakter anak didik. Lebih lanjut di tahun 2016, pihaknya akan melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer, sehingga kejujuran lebih utama.

“Jujur inilah yang dijaga oleh SMAN 1 Muara Teweh sehingga nantinya tidak hanya sekali ini saja mendapatkan piagam penghargaan, tetapi juga ditahun akan datang piagam bisa diraih kembali,” ucap Razikinnor.

Menurutnya, keberhasilan sekolah ini meraih penghargaan tertinggi kejujuran mengkuti ujian itu tidak terlepas dari dukungan Bupati Barito Utara H Nadalsyah yang selalu memberikan arahan-arahan kepada sekolah-sekolah khususnya SMA Negeri 1 Muara Teweh.

By Choirul Fuadi

Festival Budaya Isen Mulang 2016

Event tahunan mengenai budaya isen mulang di Provinsi Kalimantan Tengah diselenggarakan. Ribuan peserta dari 13 kabupaten dan satu kota di Provinsi Kalimantan Tengah mengikuti berbagai perlombaan yang digelar dalam rangkaian acara Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) Kalimantan Tengah 2016. 

Tak tanggung- tanggung, jumlah peserta mencapai angka ribuan. Bahkan jumlah tersebut naik dari tahun ketahun. Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kalimantan tengah, Yuel Tanggara mengatakan bahwa  ada kenaikan jumlah peserta ditahun ini yakni 1.767 orang, sedangkan tahun sebelumnya tercatat 1.550 perserta.  
Festival Budaya Isen Mulang

Dalam rangkaian pergelaran seni budaya berlangsung selama enam hari, mulai dari 18 hingga 23 Mei. Terdapat  19 cabang lomba, yang pertandingan yang dipusatkan di empat lokasi berbeda.
19 cabang lomba adalah karnaval budaya, pemilihan putra putri pariwisata Kalteng, lawang skepeng, meneweng menetek dan manyila kayu, jukung atau perahu hias, karungut dan sepak sawut, lomba balugu, malamang, jukung tradisional, mangaruhi, mangenta, habayan, besei kambe atau hatalawan, tari daerah pedalaman dan tari pesisir serta lomba menyipet.
Sedangkan 4 lokasi perlombangan berada di kawasan Museum Balanga, Bundaran Besar, Sungai khayan dan kawasan pameran di Jalan Temanggung Tilung.
Sementara itu, Penjabat Gubernur Kalteng, Hadi Prabowo yang membuka secara resmi acara tersebut mengajak masyarakat Kalimantan Tengah mempromosikan berbagai macam seni dan budaya masyarakat yang dimiliki, sehingga potensi yang ada di provinsi ini semakin dikenal luas.
"Diharapkan ke depan lebih baik dan lebih meriah lagi. Saya juga mengajak rakyat Kalteng menggalakkan dan mempromosikan budaya isen mulang budaya masyarakat Dayak yang ada, sehingga semakin dikenal di Indonesia terlebih di dunia," katanya seperti dikutip dalam AntaraKalteng.com.

By Choirul Fuadi

Sunday, 22 May 2016

Dinas sosial dan tenaga kerja Palangka Raya Bantu Kaki Palsu Bagi Penyandang Disabilitas

Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, memberi bantuan enam kaki palsu kepada penyandang disabilitas yang ada di kota itu.

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Palangka Raya Akhmad Fauliansyah, seperti dikutip antarakalteng.com mengatakan bahwa pembagian kaki palsu merupakan program di tahun 2016.
Ilustrasi kaki palsu

"Ini memang menjadi program kami di tahun 2016. Namun karena keterbatasan anggaran, untuk sementara ini kami baru bisa membagikan enam kaki palsu,ungkapnya.

Penyerahan enam kaki palsu itu dilaksanakan secara simbolis oleh Wali Kota Palangka Raya Riban Satia seusai upacara gabungan yang dilaksanakan di halaman kantor wali kota. Yakni secara simbolis pak wali kota menyerahkan kaki palsu itu kepada seorang penyandang disabilitas bernama Uling.

Kaki palsu tersebut dibuat di Solo, Jawa Tengah (Jateng). Untuk mempermudah enam penyandang disabilitas mendapatkan kaki palsu yang sesuai, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja itu membawa keenam orang tersebut ke lokasi pembuatan untuk dilakukan pengukuran.

"Mereka ini memang langsung kita bawa ke Solo, jadi bukan distel di Palangka Raya. Itu agar hasilnya sesuai dengan masing-masing penyandang yang akan kita berikan kaki palsu," katanya.

Satu unit kaki palsu membutuhkan dana Rp6 juta sehingga total anggaran untuk pembuatan kaki palsu tersebut sebesar Rp36 juta.

Menurutnya, ini merupakan salah satu bentuk kepedulian pemerintah kota kepada masyarakat Palangka Raya termasuk perhatian pada pada penyandang disabilitas.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah akan tetap melanjutkan bantuan dana yang digunakan untuk pembuatan kaki palsu itu pada kesempatan selanjutnya.

By Choirul Fuadi 

Saturday, 21 May 2016

Sudah ikhlaskan saja..

Sepeda Motor Kesayangan
Perkenalkan nama saya Fuadi. Saya akan menceritakan pengalaman saya disaat saya mengalami peristiwa yang tak terlupakan dalam hidup saya. Saat itu, saya masih duduk di bangku kelas 2 di sebuah sekolah SMP negri di pedalaman Kalimantan Tengah. Postur tubuh saya kecil dan kurus. Hingga saat ini, saya masih kurus.

Jarak antara rumah dan sekolah tak begitu jauh, hanya berjarak 8 km saja. pada awal kelas 1, saya bersama teman sedesa selalu berangkat menggunakan sepeda. Betapa hari kami lalui dengan luar biasa perjuangan. Menapaki dan mengayuh sepeda melewati jalan berbatu terjal dan kubangan lumpur. Bahkan hingga menerobos hutan pun kami lalui. Tak peduli hujan maupun panas, tetap kukayuh sepeda ku. Semua kulakukan demi mengejar cita-cita ku. Sering aku pulang dengan baju kotor penuh lumpur.


Hingga akhirnya ketika memasuki semester dua, sepeda motor butut milik ayah, merk Yamaha Alpha diberikan kepadaku karna ayah merasa kasihan. Dengan senang hati ku pakai motor itu. Tahun itu 2004, kehidupan masih tergolong susah. Motor adalah sesuatu yang berharga bagi kami. Tak banyak penduduk desa yang memiliki motor.

Namun dalam perjalananya, sepeda motor tidak lah cukup banyak membantu. Mogok adalah salah satu agenda rutin motor. Apalagi saat musim hujan, tak jarang motor menginap di bengkel. Selain itu, jalanan berbatu juga membuat ban motor menjadi bocor dan kempes. Menemukan bengkel tidak lah mudah, terkadang kami harus membawa pulang motor dalam keadaan bocor.

Memasuki kelas dua, diantara teman-teman ada yang dibelikan sepeda motor baru oleh ayah mereka. Iya, motor yang menjadi ikon di zaman itu, supra fit, smash, dll. Itu merupakan barang mewah bagi kami. Sangat berbeda dengan diriku, aku masih memakai sepeda motor ayahku.

Pada suatu ketika, tanpa kuduga, ayah membelikan aku sepeda motor baru. Jupiter Z warna merah putih. Aku ingat betul betapa bahagia ayah dan ibu saat itu. Disisilain, aku merasa sangat berbahagia melebihi mereka. Kini perjalananku kesekeloh tiada terganggu dengan Edisi motor mogok. Aku sangat bersyukur atas hal itu.

Waktu terus berlalu. Tiap hari kami melewati jalan yang sepi. Jalanan yang tidak rata dan banyak lubang membuat perjalanan kami harus ekstra hati-hati dan pelan. Takut terjatuh ataupun motor lecet.

Terkadangan kami berangkat beriringan, dalam rombongan besar. Biasanya kami berboncengan bersama teman yang lain. mengebut dan balapan merupakan salah satu aktivitas kami.

Namun berbeda siang itu. Ada kegiatan penyuluhan disekolah. Saya cukup tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Kulihat banyak teman seperjalanan yang sudah pulang. Hingga tersisa beberapa siswa yang masih berada disekolah. Akhirnya kuputuskan pulang sendirian.

Dalam perjalanan, hati berdebar tak menentu. Melihat kiri kanan. Seakan ada firasat buruk yang terngiang dikepala. Namun, tak ku gubris. Kupacu sepeda Jupiter ku dengan kecepatan tinggi. Hingga jauh meninggalkan teman-teman dibelakang.

Saat itu lah, mimpi buruk itu terjadi. Sewaktu melewati jembatan rusak, ku berkendara dengan pelan. Dari balik semak-semak keluarlah seseorang memakai topeng. Tangan membawa pistol. Badan besar dan kekar. Tiba-tiba menghadang ku.

Tanpa sempat menghindar, sedetik kemudian dia langsung mendorong ku hingga terjatuh. Saat itulah, dia mulai mengambil alih sepeda motor ku. Dan membawa pergi sepeda motor. Namun saya sempat bangun dan akan menarik motor, namun tenaga ku kalah hebat dengan dia. Postur ku kalah besar, sehingga dalam hitungan detik, motor ku sudah berpindah tangan ke seseorang bertopeng tersebut. Sekejap kemudian, hilang ditelan oleh debu jalanan yang mengepul.

Tak lama, ada salah satu teman yang masih berada dibelakang. Akupun langsung meminta bantuan kepadanya. Mengejar, hanya ada kata itu yang ada dalam pikiran kami. Langsung kami memacu motor mengejarnya.

Namun, untuk tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak. Motor baru kesayanganku lenyap.

Hari itu adalah hari terakhir melihat dan berkendara dengan sepeda motor ku.

***

Sesampainya dirumah, hanya pandangan lesu yang kuberikan kepada orang tua ku. Perasaan sedih terpancar jelas diwajah mereka. Motor yang baru beberapa hari mereka beli, telah hilang bak ditelan bumi.

Ayah ku langsung bergegas pergi kekantor polisi dan melaporkan kejadian. Diam-diam ayah juga mengurus asuransi motor.

Pemuda desa turut mencari kemana motor ku dibawa pergi, atau paling tidak disembunyikan. Berharap masih bisa untuk ditemukan.

Sedih, marah, tak enak makan, tak karuan rasanya dalam diri. Ingin rasanya ku berlari kehutan dan kemudian berteriak sekencang-kencangnya. Dalam sujud kuberdoa, agar motor segera ditemukan. Atau pilihan kedua Ikhlas.

Susah move on dengan motor pertama ku.

Namun orang tuaku selalu berucap, tidak apa-apa.. Ikhlas aja ya.

Sehari, dua hari, hingga berganti minggu, tak kunjung mendapat informasi dimana motor ku berada. Beragam cara dilakukan… namun hasil masih nihil. Ikhtiar dan usaha terus kami jalani. Dari mulai kiyai, hingga dukun kami datangi.

Hingga mendapat saran dari tetangga untuk menggunakan jasa dukun. Langsung ibu berangkat menemui dukun tersebut.

Sesampainya disana, dukun hanya memberikan air yang telah dimantrai. Air tersebut harus disiramkan ditempat saya kehilangan sepeda motor saya. Oh ya, juga ada bunga yang ditabur diatas jembatan tersebut.

AH, dan hasilnya……………………………………..

Sebulan kemudian, pihak dealer motor Yamaha datang. Memberi tahu untuk proses klaim asuransi. Alhamdulillah……

Kami diberi pilihan, untuk mengambil motor lagi atau mengambil uangnya. Karna rasa khawatir akan terulang lagi jika membeli motor yang sama, akhirnya uang lah yang kami ambil.

Sebulan kemudian, kami bisa membeli motor baru dengan merk yang lain. Ya Suzuki Shogun warna biru tahun 2005 menjadi saksi kisah ku semasa SMP.